Era Tinggal di Jakarta (2017- ...)

Cerita Harian 92 : Sebulan Berlalu


Satu bulan lebih berlalu, 36 hari tepatnya, komitmen itu mulai melebar ternyata. Tapi pelan bukan tanpa progress. Buku saya sudah 50 halaman, sudah hampir selesai. Selamat Yusri! Hasil kerjamu sudah terlihat. Ada cahaya yang mulai menerpamu pagi ini.

Saya harus batal puasa menulis jurnal harian pagi ini, sudah tak tahan ingin menulis, sudah terlalu banyak cerita tertahan. Saya ingin berbagi cerita.

Baiklah pembaca, perkenalkan saya Yusri Mathla’ul Anwar, seorang process engineer yang hobinya belajar. Saya pecinta bacakilat, pengikut purposeful people dan jama’ah albloggiyah madzhab wordpress. Dan ini cerita saya 36 hari kebelakang.

49913178_1204961809680071_3128829637107118586_n
My Medium Level Family ๐Ÿ™‚ (Not small but not big enough)

Sabtu, 14 Robi’ul Akhir 1440H(22 Des 18)

Sabtu pagi kami bebenah di rumah karena masih terinspirasi bukunya marie kondo, dan akhirnya sabtu sore kita jalan-jalan ke superindah dengan menjebakkan diri di gratis cashback 100% jadilah kita beli 100rb untuk kartu di game center. Ini adalah syukuran untuk hal baik di akhir tahun ini. Ya We got good reward.

P_20181222_170651.jpg

3 Kata Terlarang

Ada dua kata terlarang yang saya pelajari dari sebuah training di Bulan Januari, Ibu Rahima menjelaskan bahwa untuk bisa sukses hindari kata “COBA” dan “TIDAK BISA” kata coba hanya akan membuatmu berusaha setengah-setengah dan kata tidak bisa hanya akan membuatmu tidak berusaha. Sementara dari buku karya pak Dedy Susanto, Pemulihan Jiwa jilid 7 saya pun mendapat kata terlarang “HARUS” karena kata harus hanya akan menciptakan rasa keterpaksaan dalam hati kita.

Dari kedua training ini setidaknya saya belajar bahwa menjadi seorang bapak bukanlah ajang “COBA-COBA” karena harus dijalani dengan penuh totalitas, dan saya pasti BISA meraihnya. Saya membutuhkannya, saya bahagia menjalaninya, Ini adalah kebutuhan saya. Anak-anak adalah permata yang Allah ta’ala titipkan. Anak-anak menjadi jalan ibadah, jalan kebahagiaan, jalan ketentraman hati.

Menjadi Bapak

Menjadi bapak adalah kemuliaan seorang lelaki, menjadi bapak bukan sekedar mempertahankan generasi, tapi tentang memberikan Legacy.

Ahad, 15 Robi’ul akhir 1440H (23 Des 18)

Hari ini neng tengah mengadakan acara ngunduh mantu, 2 pekan sejak hajatnya di Sukabumi. Harusnya saya kesana juga, tapi melihat kondisi akhirnya batal. Saya putuskan kita di rumah saja hari ini.

dsc_0060

Hari ini seperti cerita diatas, sejak kemarin kita bebenah lemari. Mengimplementasikan konmari yang melegenda sebagai sebuah seni 5S yang Amazing.

C360_2018-12-23-20-52-10-096.jpg

Dan untuk kedua kalinya kami bermain ke Taman di perumahan Sarigaperi, Najmi main mobil remot dan anak-anak main sepeda. Weekend yang sederhana dan menyenangkan.

Senin, 16 Robi’ul akhir 1440H(24 Des 18)

Akhirnya 24 desember tiba, ini hari libur! Saya pulang ke Sukabumi lagi, ambil motor yang sepekan nangkring di Sukabumi. Alhamdulillah perjalanan lancar, dan pulang dengan motor. 2 jam saja saya disana, kami diskusi tentang rumah yang tiba-tiba saja sudah kosong.

P_20181224_152420_BF.jpg

Tak apa, rejeki saudara karena pengontrak mengontrak di rumah saudara juga. Perjalanan Sukabumiย  – Bogor jadi lebih menyenangkan sekarang. Pasalnya jalanan sangat lancar sampai ke Cigombong.

Selasa, 17 Robi’ul akhir 1440H(25 Des 18)

Ini hari natal bagi ummat nasrani, kami libur sejak sabtu. Di liburan kali ini 4 Hari kami di rumah.

p_20181225_122622

Ada cukup banyak kegiatan hari ini, dari mulai beberes rumah dari lemari baju sampai rak buku, dan kita jalan-jalan ke pondok gede,kita main ke gramedia sampai beli smoky ice. Ada dua buku favorit yang kami boyong ke rumah. Alhamdulillah. Satu buku tentang tahajud dan satu buku tentang 50 cerita membina karakter anak.

Malam harinya, Najmi melakukan kursus tentang tata cara memainkan mobil-mobilan secara professional kepada adik-adiknya ๐Ÿ™‚

Rabu, 18 Robi’ul akhir 1440H (26 Des 18)

Setelah libur panjang, saya kembali bekerja, ada deadline untuk mengirim VSM hari ini. Ada meeting VAM di akhir tahun berujung dengan beberapa ide improvement terbaru yang terus ter-tracking. Kami disorot oleh manajemen tentang proyek digitalisasi.

Meeting RTLS ditunda hari ini.ย  Cancel karena pasti mereka pun libur. Udah kaya lebaran di Jerman, katanya.

Kamis, 19 Robi’ul akhir 1440H(27 Des 18)

Mungkin memang ingatan manusia itu hanya 2 hari? Tanpa membuka catatan, tanpa booking calendar, tanpa foto, maka kenangan hari ini pun lenyap. Tapi foto tanpa catatan pun sama, saya sering beberapa kali lihat foto dan lupa itu diambil kapan? Misalnya zaman SMA apalagi foto yang memang sudah bertahun-tahun ga saya lihat!

Tableau-Server-Icon.png

Ada penyelesaian masalah bersama vendor soundproof dan penawaran dari Tableau di akhir tahun ini. Sebuah hari kerja yang menarique. Di rumah? Ini malam jum’at, biasanya kita baca shalawat atau baca yaasin. Anak-anak sehat wal’afiat dan terus bertumbuh, alhamdulillah!

Jum’at, 20 Robi’ul akhir 1440H (28 Des 18)

Jalanan masih sepi, efek liburan, orang pada ambil cuti dua pekan terakhir di 2018. Ada foto anak-anak yang begadang hari ini.

Hari ini penawaran komputer sudah selesai dari pihak SPR. Sebuah kado indah di akhir tahun. Saya tidak cuti, sudah ambil banyak di beberapa pekan kemarin. Orang-orang sudah pada liburan.

Berbekal buku, berbekal bobo dan bayangan lampu, kami masih mendongeng di malam hari. Ini liburan kami, sederhana dan bahagia. Tidak apa ceritanya masih kurang jelas, tidak apa hanya berbekal lampu dan kreativitas, kami bahagia bersama-sama.

Dengan nikmat seperti ini, mau mengeluh pun malu. Hidup bukan seberapa banyak yang kamu dapatkan, seberapa panjang usiamu atau seberapa indah yang kau dapatkan. Kita masih di dunia dan tidak ada apapun yang berharga dari dunia, semuanya sangat kecil dibanding akhirat.

Hidup adalah seberapa baik kamu gunakan untuk tujuan akhiratmu, misalnya tentang seberapa baik kualitas anakmu.

Sabtu, 21 Robi’ul akhir 1440H (29 Des 18)

Di weekend kali ini kami di rumah, nonton film danย  masihmempraktekkan buku marie kondo. Saya sempat menulis, sudah 28 halaman malah. Luar biasa.

41f9o66qntl._sx352_bo1204203200_

Hasil karya bebenah hari ini berhadiah pocky!

Dan sore hari kami kembali ke taman, Ummah jadi foto model hari ini!

Ahad, 22 Robi’ul akhir 1440H (30 Des 18)

Ahad saya silaturahmi ke pak suhenda, ngobrol tentang kondisinya yang sekarang masih belum dapat pekerjaan. Alhamdulillah hari itu masih bisa Silaturahmi dan rumah pun ada yang menanyakan di hari itu.

P_20181230_085917_BF - Copy.jpg

Senin, 23 Robi’ul akhir 1440H (31 Des 18)

Saya masuk kerja, sehari saja untuk memotret meja. Menulis saja saya pekan ini. 2018 Masehi ditutup di hari selasa. Malam hari petasan berseteru di langit di malam hari. Kami tidur terlelap saja.

P_20181231_173658.jpg
Meja kerja di akhir 2018

Hari ini juga kamera Nikon D3000 terjual di 1450, nyesel juga jualnya karena terlalu murah.ย  But it’s OK, udah jadi rejeki orang.

Selasa, 24 Robi’ul akhir 1440H (01 Jan 18)

Ini tahun baru masehi, libur. Orang-orang pada liburan. Kami? Kami lupa hari itu ada apa? Di rumah, nonton film?

Hanya ada foto ini saja di tahun baru!

Rabu, 25 Robi’ul akhir 1440H (02 Jan 18)

Saya kembali bekerja, selepas tahun baru. Masih tidak ada meeting dan ada 3 pekerjaan yang harus selesai : ruangan warehouse, Process mapping mech. engineering & comparison untuk peralatan panel tracking.

Saya masih membaca, masih menulis, sedikit sedikit. Hari ini saya menchat bang ali soal pengutipan materi trainingnya. Alhamdulillah, done!

Kamis, 26 Robi’ul akhir 1440H (03 Jan 18)

Timelapse & Special Moment

Saya cuti, selepas tragedi Najmi benjol dan buru-buru berobat, jam 9.30 saya berangkat ke Sudirman. Hanya 20 menit disana berlanjut shalat dzuhur dan pengajian yang menakjubkan.

P_20190103_120053.jpg

Sore hari saya mengajak anak-anak ke game center lagi, dimana Najmi asyik dan Jarir masih ketakutan, Jabir udah mulai dibawa enjoy juga. Suasana asyik.

Jum’at, 27 Robi’ul akhir 1440H(04 Jan 18)

Timelapse & Special Moment
Hari jum’at saya bekerja lagi, subuh cerah karena pekan ini kami mulai kembali membenahi diri. di tempat kerja suasana masih liburan meski jalan sudah mulai penuh.

Isa saya bawa ke QC juga akhirnya selepas dzuhur. Jum’atan kali ini khutbah tentang pembagian rejeki bahwa rejeki itu ada yang dilancarkan ada yang disempitkan. Begitulah keadilan Allah SWT. Btw, khutbah teoritis begini kadang membuat saya mengantuk, adalah lebih bersemangat jika dalam khutbah mengangkat topik terkini dan mengutarakan sejarah sebagai salah satu medianya, seperti khutbah pekan sebelumnya tentang provinsi xinjiang/suku uighur.

P_20190104_053805.jpg

Hari itu saya mengirim amplop untuk umroh white koffie, semoga ada jodohnya, rejeki Bapak.

Sabtu, 28 Robi’ul akhir 1440H(05 Jan 18)

Timelapse & Special Moment
Sabtu pagi saya terbangun dengan alarm, jam 4. Bergegas shalat lalu berdiskusi soal keinginan mamah untuk mengajak Najmi. Akhirnya selepas beristikhoroh dan musyawarah, kami putuskan Najmi ikut.

Jam 5.30 kami berangkat dari rumah, menaiki gojek, lalu angkot dan barulah tahu bahwa bapak ke Bandung, tadinya mau kami cancel saja, pulang lagi ke rumah, tapi minta di lanjut.

P_20190105_112218.jpg

Perjalanan pun lancar, meski berdiri di APTB di cawang, berlanjut dengan kol bogoran yang ngebut juga lalu berlanjut grab dan sampai di jam 10. Mamah lagi jemur pakaian saat kami sampai gang rumah, Najmi langsung lari dan memanggil nenek. Bahagia dia nampaknya. Saya bersalaman dengan mak nek, Bapak aki dan seorang tetangga disana.

Langsung aja saya mengecek rumah, melihat lantai kamar sedang di bersihkan, cat yang sudah bagus dan beberapa saat kemudian sang calon pengontrak pun datang. Kami diskusi hingga dzuhur, menyampaikan amanah agar anak-anaknya mengaji, menjaga komunikasi dan kepastian pembayaran.

Ba’da dzuhur saya membereskan rumah, menyapu, membersihkan beberapa sarang laba-laba, memasang lampu, mengantar Najmi ke warung, Jajan, memasang lampu dan sempat sedikit tidur siang. Ada beberapa obrolan juga dengan mamah soang itu, tentang beberapa pelajaran tentang husnudzon, ikhlas dan bakti kepada orang tua.

P_20190105_090729.jpg

Selepas maghrib saya mengunci pintu dan diskusi dengan umi tentang masalah yang sama. Lalu Najmi tidur disana, menikmati beberapa suguhan dan shalat isya’. Selepas shalat saya mengopi lalu menjemput Najmi lalu tidur selepas sebentar bermain handphone. Ummi memeberi hadiah untuk double J, saya bilang untuk beli baju, semoga amanah.

Ahad, 29 Robi’ul akhir 1440H(06 Jan 18)

Timelapse & Special Moment
Ahad pagi saya bangun subuh terbangunkan adzan Mang Chaniago. Langsung saja ke mesjid, saya wudhu di mesjid lalu pulang dan membangunkan Najmi, dan bersiap-siap. Najmi pun bertemu bapak, salaman lalu dipeluk sebagaimana keinginannya dan alasan kami disini pagi ini.

P_20190106_060346.jpg

Jam 5.30 kami diantar bapak setelah bersiap-siap ke jalan, bertemu angkot di rizzy lalu Najmi di gendong, sebentar saja bertemu bapak. Hanya 30-45 menit saja.

Angkot melaju, diganti grab lalu di Balandongan kami naik kol bogoran yang ngebut ke Ciawi via tol pula dengan penumpang hanya 3 orang. Cerewet orangnya, pengen dilebihin ongkosnya kayanya. Lanjut APTB sampai cawang, tidak banyak kendala, jalanan lancar, adem dan Najmi nyaris tidur sepanjangn perjalanan. Di lanjut angkot dan grab, kita sampai di Kemang Pulo jam 9. Ummah sedang muludan bareng double J saat kami sampai di kemang Pulo.

P_20190106_060343.jpg

Istirahat, mandi dan makan kue, sambil shalat dhuha anak-anak bermain di depan, sampai belepotan coklat dari roti dan saya inisiatif lepas saja baju gamisnya. Menikmati pagi itu dengan singkong goreng dan kopi susu, nikmat dan bahagia.

Dzuhur pun datang, selepas shalat, kita istirahat sampai ashar. Ada banyak film, tapi tak semangat nonton film, baca buku, nulis pun masih terbengkalai. Saya pasti bisa memperbaikinya pekan ini, ini pilihan saya.

Selepas ashar kami jalan-jalan ke komplek sarigaperi, ada seseorang yang kami temui, sepertinya mas Eko Ramaditya? Benarkah? Sepertinya benar, agak segan saja menyapanya. Langit indah hari ini. Kami bermain sepeda, balon dan berfoto. Sayang saya belum beli kamera lagi.

Maghrib datang, Sebelumnya Najmi merajuk karena balon pesawatnya pecah. Sampai shalat maghrib saya menenangkannya di mesjid, sambil sumringah saat kami membeli jasjus jeruk nipis di warung depan mesjid. Kebahagiaan sederhana.

Najmi tidur sepulang shalat maghrib, anak-anak pun sama. Sampai isya kami berduaan, menonton film flatliner yang jadinya malah dipercepat. Selepas isya kami sempat berduaan lagi, dengan anak-anak sekecil begini memiliki waktu berdua adalah hal spesial dan luar biasa membahagiakan.

Saya sempat beberes rumah juga, menyapu, membenahi kamar Najmi, hingga akhirnya Jabir mengigau, kami pun mengantuk, jam 9 kami terlelap bersama.

Ada lelucon ang tiba-tiba kefikiran. Dari mana asal hidup berawal dari mimpi? karena seorang lelaki baru bisa memulai kehidupan jika dia sudah bisa mimpi, mimpi basah.

Senin, 1 Jumadil Awwal 1440H(07 Jan 18)

Timelapse & Special Moment
Subuh menjemput kami, Najmi pun bangun subuh, ikut ke mesjid meski masih tiduran. Saya kira memang masih terlalu kecil untuk benar-benar mendisiplinkannya.

Setelah shalat pak ustadz datang, minta izin menyimpan bahan bangunan di samping rumah. Saya lanjut menggoreng singkong, membuat kopi sambil mengaji lalu menikmati pagi bersama anak-anak. Kadang mereka masih rebutan botol shampo, bus tayo hingga sepeda. Najmi ikut Ummah ke warung.

 

6.30 saya berangkat, jalanan lancar, mulai ramai, sekolah sudah mulai, meski calon TK Najmi nampak belum mulai. Cahaya pagi menyapa di lapangan komplek sarigaperi. Sampai kantor 7.40.

Menikmati kopi lahat lagi dengan tisu, vietnam drip belum sampai. Sementara makanan mulai berdatangan dari Korea, yogya dan Bali.

Beberapa pekerjaan dilaporkan selagi interview dengan pak reda khususnya soal internshipnya isa, VSM dan Soundproof. Belum baca buku hari ini. Hari ini saya menulis lagi, setelah sekian lama

Knowledge sharing & Improvement

Selasa, 2 Jumadil Awwal 1440H(08 Jan 18)

Di grup WA hari ini saya kembali menyapa grup bahasa yang legendaris dengan kekonyolan seperti nyelametin mrs. dokter karena filmnya udah rilis.

Ada diskusi bareng pahe soal VAM di tempat kerja. disertai beberapa problematika bayar kontrakan, penjualan rumah dan pencarian kamera yang belum juga berjodoh.

Selasa malam berjalan lancar dengan pengajian khusyu’ bareng Najmi dan keluarga. Hari yang membahagiakan. Saya harap akan lebih baik lagi.

Rabu, 3 Jumadil Awwal 1440H(09 Jan 18)

Jam 12 malam Jabir bangun dengan tangisan. Setelah jam 10.30 nya dia tidur bareng saya, saya tarik ke kamar, jam 9.30 anak-anak saya ajak terlelap, setelah mendongeng, Jarir saya ajak tidur bareng Najmi. Badan Najmi gatal-gatal, cuaca panas, mau hujan sepertinya. Tubuh anak-anak biang keringat pakai obat saja, kaladin losion.

Jam 8 saya pulang ngopi mojok di warung depan yang tutup, lalu mengaji tafsir tentang hukum bagi pezina dan mendongeng bobo bareng anak-anak

Jam 7 saya shalat selepas makan, shalat masih keburu berjamaah di mesjid sarigaperi. Setelah pulang kantor di 17.34. Masih merapihkan tulisan. Masih baca buku bacakilat juga. Menarik.

 

Di kantor ada pengajian sampai jam 5, membahas QS alburuj, membahas uighur dan pembantaian muslim di awal penempatan amerika bersama suku indian. Sebelumnya ada meeting VAM dengan review digitalisasi yang menumpuk.

Sebelum dzuhur langit masih cerah terjebak dengan banyak hal tak penting namun masih bisa shalat duha. Subuh pun bercahaya. Alhamdulillah.

Kamis, 4 Jumadil Awwal 1440H(10 Jan 18)

Jam 3:07, 1 jam sebelumnya saya meeting soal paperless improvement disertai process standardisasi di area packing, Ini sudah industri 4.0 jika ingin tetap exist perlu skill lain dan terus meningkat. Angkatan kerja semakin cerdas kita harus tingkatkan kemampuan.

Dzuhur di sepertengah siang, setelah makan ddengan soto dan sate yang menawan. Hari ini ada filter kopi yang menarik dan masih gagal juga membuat kopi. Masih explorasi. Salah takar, terlalu pede. Belum nemu.

Tapi oke, hari ini berjalana lancar. Cahaya subuh menyapa ramah, anak-anak pun sehat hari ini, perjalanan lancar meski hujan. Tapi beneran wangi tanah selepas hujan begitu menggoda. Anak-anak begitu senang pagi ini, sehat semua, lucu, bersih, ceria bikin lama di rumah. Saya sampai di kantor di 8.30 karena macet dari pangkalan jati dan di pramuka.

Pulang kerja juga macet, barokah mencari jalan baru, masih keburu rokaat ketiga di mesjid sarigaperi, lalu pulang dan mengaji dengan drama Najmi yang dihukum 10 menit karena lempar buku catatan ummah dan bibir Jarir berdarah kena gigi. Ini kedua kalinya, setelah beberapa hari kebelakang Jarir kena dorong sambil main-main dan kejedot pintu.

Tapi malam berjalan lancar, setelah dihibur dengan tayo dan Najmi agak sedikit cemburu dengan adik-adiknya yang say aajak main. Saya beli bubur kacang spesial pakai nangka lalu tidur. Ini malam jum’at dan sudah 2 kali Jabir maupun Jarir tiba-tiba bangunin di jam 12’an. Saya kurang peka, malah tidur lagi. Hari ini tanya rak dapur, belum cocok.

Jum’at, 5 Jumadil Awwal 1440H(11 Jan 18)

Tukang tivi akhirnya datang. Pagi menyambut lembut tapi kembali menggoda sepanjang subuh. Jam 7 baru mandi dan langit sudah lebih cerah dari kemarin dan tak semacet kemarin. Jam 8.34 sampai kantor dan langsung kerja.

Sebenarnya dari pagi ada banyak kegiatan yang berhubungan dengan kerja maupun enggak, dari mulai cari kamera, berburu cashback buka lapak, cari kursus setir mobil, meeting soal conceptboard, follow up capex, tapi yang paling pertama saya follow up adalah VSM nx-air yang harus direvisi.

Jam 11 saya baru shalat dhuha, tapi 11.30 saya malah balik lagi ke meja. Jum’atan kalin ini tentang beberapa amal sehari-hari yang akan menjadi kunci kemenangan Islam. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW :

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู’ู†ู ุณูŽู„ูŽุงู…ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู’ู†ูŽุฉูŽ ุŒ ุงูู†ู’ุฌูŽููŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽู‚ููŠู’ู„ูŽ : ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุŒ ููŽุฌูุฆู’ุชู ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู„ูุฃูŽู†ู’ุธูุฑูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุจูŽู†ู’ุชู ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽุฑูŽูู’ุชู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจููˆูŽุฌู’ู‡ู ูƒูŽุฐู‘ูŽุงุจู ุŒ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุดูŽูŠู’ุกู ุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ: (( ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุŒ ุฃูŽูู’ุดููˆู’ุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ูŽ ุŒ ูˆูŽุฃูŽุทู’ุนูู…ููˆู’ุง ุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ูŽ ุŒ ูˆูŽุตูู„ููˆู’ุง ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุญูŽุงู…ูŽ ุŒ ูˆูŽุตูŽู„ู‘ููˆู’ุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู†ููŠูŽุงู…ูŒ ุŒ ุชูŽุฏู’ุฎูู„ููˆู’ุง ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุจูุณูŽู„ูŽุงู…ู )).

Dari โ€˜Abdullah bin Salรขm, ia berkata: โ€œKetika Rasรปlullรขh Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam datang ke Madinah, orang-orang segera pergi menuju beliau Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam (karena ingin melihatnya). Ada yang mengatakan: Rasรปlullรขh Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah datang, lalu aku mendatanginya ditengah kerumunan banyak orang untuk melihatnya. Ketika aku melihat wajah Rasรปlullรขh Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam , aku mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah pembohong. Dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, โ€˜Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.โ€

Read moreย https://almanhaj.or.id/4066-amal-amal-yang-dapat-memasukan-manusia-ke-surga-dengan-selamat.html

Lepas jum’at sampai ashar masih cari kamera, monitor tukang servis dan tanya soal calon pengontrak rumah baru. Sambil kerja juga, revisi conceptboard. Selepas ashar yang soalnya samping Mr. RD dan gemper sampai khawatir salah niat… saya masih tanya2 kamera

Sabtu, 6 Jumadil Awwal 1440H(12 Jan 18)

Hari sabtu dari pagi saya mau ke bogor. Cibinong tepatnya, silaturahmi dan tragedi perubahan kontrakan pun terjadi di lubang buaya.

P_20190112_091529_BF.jpg

Ini pertama kali saya ke lubang buaya, dan gak nyangka bakal jadi moment bersejarah terkait penggunaan kontrakan. Karena sepanjang saya jalan-jalan saya negosiasi dengan pengontrak.

P_20190112_105826_BF.jpg

Hari ini saya ke Cibinong juga bareng Najmi, setelah lebih dari 20 tahun saya tidak bersilaturahmi ke saudari seuyut disini. Iyul dirawat di rumah sakit, kena Alergi di badannya. Alhamdulillah semuanya lancar, walau sedikit lelah apalagi pas berangkat naik miniarta ๐Ÿ™‚

Ahad, 7 Jumadil Awwal 1440H(13 Jan 19)

Ahad saya istrahat di rumah, kemarin sudah seharian ke Bogor.ย  Ba’da ashar atau dzuhur begitu, saya duduk di shalat center, membaca madarijussalikin karya Ibnu katsir, kandungan hadits dan penjelasannya sangat banyak dan baik, hanya saya tidak memiliki banyak waktu untuk benar-benar membaca dengan baik

Senin, 8 Jumadil Awwal 1440H(14 Jan 19)

What I think!

Sometime we do something shit, it’s OK, but you know! we need to fix it! Seperti itulah nasihat Mr. D saat dulu saya disuspect melakukan kesalahan design ruang punching room. Dan hari ini ingatan itu masih terngiang saja

Ini soal kontrakan, ada kesalahan transaksi dan sistem yang masih semrawut atas kekurangan saya mengatur kontrakan dan beberapa destruksi dari internal maupun eksternal.

P_20190115_072115.jpg
anak-anak nganter ke pintu

Pertama dari internal, entah kenapa saat uang belum ada di tangan saya, saat uang masih ada di pengontrak atau ada di orang tua saya, saya ga tenang?

Di satu sisi saya fikir ini salah satu kegilaan saya saja pada uang. Harusnya saya husnudzon saja, tenang, rileks dan konsisten dengan apa yang saya komitmen, apa yang jadi keputusan saya sebelumnya, misalnya dengan membiarkan rumah dibayar dp 20% nya dan biarkan sore ini bayar sisanya, lalu menunggu 1 minggu hingga pekan depan.

Tapi hati udah gelisah, dari sabtu uang belum saya terima, bapak tidak transfer juga, senin pagi pengontrak punya dalih yang lain juga, katanya sore… Dan I already waiting for 3 days but still none in my hand. Kata bapak beliau tidak bisa mentransfer via ATM, jadi harus nunggu senin, dan hari senin beliau betulin atap bocor dulu dan nunggu sore. Menemukan ketiadaan sense of urgency and respect seperti ini, otak limbik saya seringkali mengerang. Belum lagi menghadapi kenyataan betapa potongan demi potongan terus berjalan tanpa pengertian.

Saya ingin jadi manusia baik, tapi saya tidak ingin terlalu baik. Terlalu empatik seringkali membuat seseorang diremehkan, dianggap sebelah mata! Saya butuh orang yang bisa memberikan respect balik, mengerti dan mau memberi. I need that! Tapi hidup seringkali berbeda 180 degree itulah kenapa saya harus mengatur penerimaan saya lebih baik.

Tapi bukankah ini wajar? Suara hati saya berkata seperti itu. Saya ingin mengerang dari pagi, betapa manusia itu begitu susah dalam menghargai orang lain.

Sabtu pagi tiba-tiba bapak menelepon, hari itu ada 2 orang yang menanyakan kontrakan. Pertama seorang ibu berjilbab dan kedua seorang pemilik toko. Menawarkan gadai.
Dengan beberapa pertimbangan, saya meminta pen DP untuk bisa menolong saya dengan mencancel transaksi, keterlaluan memang, tapi saya bilang : Kalau keberatan tidak mengapa, dilanjut saja.

Pengontrak pertama awalnya menerima saja, dengan saran DP nya dikembalikan, tapi belakangan dia marah-marah, bahkan meminta ganti rugi. Saya hanya bisa diam, setelah memberikan sedikit uang penghargaan.

Urusan selesai, saya lanjut dengan pengontrak baru. Ternyata setelah difikir-fikir gadai bukan solusi yang baik, uang yang diberikan terlalu kecil, saya batalkan transaksi gadai, lalu lanjut kontrak lagi. Sore hari dia memberi DP lagi. Belum lunas. Katanya nunggu senin.

Tapi hari senin datang, dan uang masih belum saya terima hingga jam 11. Saya harap mereka bisa taat janji dan tidak melakukan wanprestasi. Sedikit meradang, bahkan hingga telepon saya tidak juga diangkat.

Dari fenomena ini saya belajar beberapa hal tentang dunia penyewaan rumah. Pertama bahwa harus jelas dari awal, dengan siapa Anda bentransaksi, siapa pihak penyewa, siapa pihak yang menyewakan. Bapak harusnya tidak lebih dari perantara disini. Jangan jadi pihak yang menahan uang disini.

Ketiga, saya tidak akan menerima DP lagi dalam dunia sewa karena rugi dengan waktu yang berjalan. Harus langsung cash. Hari itu harusnya saya bilang, bayar sekarang atau tidak sama sekali. No more!

Pengalaman Kontrakan

Pengalaman ini membuat saya greget. Saya sudah 3 kali menerima pengontrak. Pengontrak pertama adalah keluarga Bu Yuli, tahun 2016. Dari awal transaksi hingga pergi, saya tidak pernah bertemu. Mereka mengontrak untuk 6 bulan, tapi hanya mengisi rumah 3 bulan lalu menghilang. Saya lupa harga kontrakan waktu itu berapa.

Di 2017 ada pengontrak asal pelabuhan yang mengontrak 6 bulan juga, dan sama, menghilang begitu saja. Dia marah-marah karena sudah hampir 1 bulan dia tidak bayar dan saya minta mengosongkan rumah.

Di 2018 full setahun, ada seorang ibu asal kalimantan yang mengontrak rumah, lancar saja soal pembayaran, tapi ada 2 masalah utama saat itu, 1 adalah saat saya coba menaikkan harga dan ternyata dia malah kaget, marah lalu pindah kontrakan. Ke dua adalah transaksi yang kurang clear soal instalasi listrik.

Di 2019 sekarang, seperti itulah ceritanya. Jika ini sukses, ini jadi pertama kalinya saya akan menerima uang yang cukup dari kontrakan saya, setelah sebelumnya uang kontrakan menjadi infak dan jadi investasi.

Biasanya saat saya gelisah begini semua baik-baik saja. Semoga saja begitu. Coba percaya pada insting saja. Cuma saya tidak suka memaksa orang lain untuk bayar, saya ingin mereka memiliki inisiatif yang baik dalam memenuhi janjinya. Tidak perlu proaktif, cukup sesuai dengan janji saja. Insya allah.

Tapi yang pasti, semua yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. Saya hanya berkewajiban berikhtiar saja. Laa haula walaa kuwwati illa billah.

Keseharian

Senin pagi berjalan lancar seperti biasa. Bisa tahajud, bangunin ummah, ngaji, untuk hari ini saya bacakilat Al-Qur’an, dan ternyata cukup lama juga. Hampir 1 jam, berlanjut dengan mengulang QS almulk, diskusi soal pendidikan anak, tentang beberapa ilmu bareng ummah dan sarapan gorengan bude.

Jam 6.30 saya mandi setelah bangunin Najmi, lalu berangkat terlambat di 7.15. Perjalanan lancar tanpa kemacetan berarti, hanya ada razian di pintu keluar busway stasiun Jatinegara. Penghalang jalan juga sudah dipasang lebih memanjang, lebih jauh.

Jam 8.20 saya di meja, tanpa kopi saya selesaikan VSM, dan data process mapping shipping dan packing. Saya kerja kok, cuma kadang kurang percaya diri saja.

Hari ini adalah hari pertama saya kembali tanpa internet di HP, lebih sehat memang. Belakangan saya sadar bahwa saya mengecek handphone terlalu sering dari kebutuhan.

Malam hari pengontrak datang, memberi uang ke bapak, bapak pun menelepon saya. Semuanya jelas, meski saya ga enak hati, takut bapak kesinggung.

Selasa, 9 Jumadil Awwal 1440H(15 Jan 19)

Akhirnya urusan kontrakan selesai. Ditandai dengan uang yang sudah saya terima utuh daru bapak dan pengontrak yang menyatakan bahwa uang sudah ditransfer.

Lalu bagaimana dengan rencana mereka untuk merenovasi rumah? Bagaimana dengan kunci pintu rumah? Bagaimana dengan kunci jendela? bagaimana dengan komplen soal kamar? Bagaimana dengan komplen soal kamar mandi?

P_20190116_070539.jpg
Berangkat kerja 16 Januari 2019

Saya ingin menelepon pengontrak dan bilang bahwa rumah adalah seperti apa yang dilihat pada saat sebelum akad. Segala perubahan kondisi harus seizin pemilik. Ternyata masalah sewa menyewa ini diatur dalam peraturan pemerintah NOMOR 44 TAHUN 1994 dan KUPdt pasal 1550, serta UU RI no 4 tahun 1992 tentang perumahan dan pemukiman, PP no 49 tahun 1963, Lalu menceritakan bahwa ada beberapa hal yang terkait kemampuan dasar seperti air, kunci, lampu, dinding. Bisa.

Dan soal uang, tidak ada rasa yang enak saat menerima uang. Biasa saja. Hanya saat tidak ada, belum dibayar atau belum dikirim. Rasanya bukan main gelisah. Uang uang uang. Nampaknya terlalu menggebu hati ini dibuatnya.

Semalam bapak menelepon dan saya bilang takut terpakai dan tanpa sengaja itu menyinggung perasaannya. Saya tidak ingin menyinggung. Hanya ingin menyampaikan perasaan, tapi begitulah adanya jadinya. Saya hanya bisa diam sebagai anak, andai saja bapak mau mengerti tanpa harus diingatkan. Agar uang langsung ditransfer, tanpa harus diterima.

Waktu pagi ibu mesms lagi bahwa harusnya saya bantu pengontrak dengan menembok dinding kamar mandi, mengecat rumah, menaikkan daya. Hati ini keberatan. Mulai lagi fikir saya, harus keluar uang lagi kah? Saya tolak, sehalus mungkin, meski akhirnya tidak bisa membendung amarah saya. Uang saya, kirim kesaya. Saya bilang begitu. Tak menyangka dan tak ingin say abilang begitu.

Selang siang, bapak menelepon. Saya bilang kunci akan saya ganti digunakan beliau meminta uang pengganti kunci, beliau juga menagih uang ongkos lama. Apa lagi ini? Begitulah tabiat yang membuat saya tidak begitu nyaman berurusan dengan masalah uang.

Tak biasa saya meminta uang, pun orang tua saya, hanya mengharap kebaikan Allah SWT saja dan mengikuti sistem yang terbaik yang ada. Namun tak biasa juga kalau hak kami dikurangi. Saling menghargai, indah rasanya. Sekarang? Meski uang ditangan, hati tetap tak nyaman. Ada rasa sesal terjebak di kondisi seperti ini. Nyaris sering.

Berkatalah yang baik atau diam. Begitu nyatanya. Lalu bagaimana sekarang? Diam dulu saja, saat tak ada kata baik yang bisa disampaikan.

Ingin memberi lebih banyak kepada bapak, sebagaimana inginnya, ingin memberi ke mamah, sebagaimana inginnya. Tapi memberi adalah perkara sulit alih-alih mudah. Inginnya menahan, takut miskin. Sudah cukup memberi. Tak ada pembenaran. Selalu begini. Berilah, lagi dan lagi. Selalu begitu.

Hari ini

Hari ini jam 2 saya terbangun, syariatnya alarm salah setup. Jam 2 berdering. Saya paksa untuk shalat 4 rakaat, tahajud. Berdoa.

Lalu tidur lagi sampai jam 4. Ternyata bangun begini malah ngantuk banget. Beres subuh saya tidur lagi sampai jam 6. Malah gak ngaji. Sepertinya setiap orang punya gaya masing-masing,. Lebih baik bangun jam 4 kurang seperempat saja.

Jam 7.20 Motor melaju dengan berita kaget soal renovasi rumah. Ya Allah, ingin rasanya nyenengin orang tua. Tapi ingin juga coba ngumpulin uang tanpa buat rumah. Tak apa rumah mah. Tenang aja. mungkin pengen keramik. Mungkin pengen yang lain.

Saya tetap jalan, tapi tak semerah kemarin. Ada razia motor di Jatinegara seperti kemarin. Alhamdulillah tak ikut-ikutan, seperti kemarin sore, rupanya ada razia juga di sore hari di ahmad yani bea cukai.

Jalan lancar, sampai di jam 8.03 saat tapping dan berlanjut dengan menyelesaikan beberapa tugas di VSM, process mapping dan capex. Dengan diskusi soal keuangan sampai saya merengek. Sakit saat dikorting, tapi hampa saat dikembalikan. Uang tidak ada apa-apanya. Apa sebenarnya yangs aya kejar?

Dzuhur berjalan dengan kitab dan berlanjut dengan tidur dan shalat. Ada meeting di 2.30 setelah selesai tugas. Ada meeting bareng seorang supplier dan menulis. Itu har ini,

Dan saya pun menelepon pengontrak. Mau ngobrol soal air dan kunci . Uang yang kemarin ternyata belum cukup. Saya harus buat surat kontrak. Untuk peresmian.

Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440H(16 Jan 19)

Semalam mesti nunggu 4 kali saya nelpon hingga akhirnya diangkat telepon oleh mamah dan bapak. Sepertinya mereka marah, saya jadi su’udzon. Saya dinasihati, benerin rumah. Bingung kalau rumah mau beres tapi ga mau keluar uang. Saya bilang, ga apa-apa. Asal uang saya pegang dulu. Entahlah, masih kurang baik saja.

Hari masih berjalan. Semalam setelah mengaji, akhirnya kami tertidur. Jam 1.40 saya bangun. Saya mimpi ganti lampu bareng bapak tapi lampunya copot. Saya terbangun karena saya fikir kenapa tidak bisa tidur? Ah, paksa saja shalat. Jam 3 saya tertidur lagi setelah membereskan beberapa foto dan bangun dengan sedikit lunglay satu rakaat.

P_20190117_054908.jpg
My first EOS

Saya pulang dan bangunkan najmi. Selepas mengaji, saya mengajaknya dan Jarir yang juga sudah bangun untuk bermotor ria, mencari jajanan. Langit masih gelap. Selepas itu kami kembali melihat foto, membereskan video. Hingga 6.00 lalu mandi setelah ngopi. Setelah bersiap saya mengajak Jabir bermotor ke depan mesjid. Najmi tak mau, lagipula sudah semalam.

Sewaktu pulang, saya beli kamera. Baru kali ini saya jalan ke lokasi itu. Dengan agak meneyesal dengan kesalahan strategi. Saya beli dengan harga 2,3 yang harusnya cukup dengan 2,2 atau lepas. Lagipula tidak perlu perlu amat.

Waktu berjalan. Dan malam itu kita istirahat.

Kamis, 11 Jumadil Awwal 1440H(17 Jan 19)

Hari ini kembali menjemput subuh. Dengan subuh yang lebih baik dari hari kemarin tapi tanpa tahajud malam ini. Alarm tidak ada, lupa saya set up. Jarir yang membangunkan saya, dengan tangisannya, hakikatnya dari Allah SWT.

Dan hari berjalan berlanjut dengan project. Sudah banyak yang dikerjakan. Terlalu banyak yang difikirkan. Kemarin kamera, hari ini rak dapur dan besok jalan-jalan? Kepala terlalu mikir dunia.

P_20190120_055749.jpg
kopi luwak dan pizza bala-bala, makanan rutin sebulan ini, hampir tiap pagi

Akhirnya rak dapur diantar juga, sampai rumah tidak lebih dari 5 menit saat saya sampai. Murah, lebih murah dari yang saya kira. Ya, hidup kadang begitu. Ada saatnya yang kita sangka murah malah mahal, atau sebaliknya.

Malam hari selepas maghrib kita makan, lalu ke mesjid dan tanya soal kipas angin. Ada harapan diservis katanya.

Lalu selepas isya kita ngaji, tabarok, lalu mengupas ayat Qur’an mengenai haramnya anak menikahi mantan istri bapaknya. Serta asbabun nuzul ayat tersebut dan sebuah ayat yang dikupas di riyadhussholihin.

Ya, alhamdulillah sepekan ini aja udah baca beberapa buku hebat. 30% riyadhussholihin, 15% ihya ulumuddin yang dibaca di waktu dhuha dan waktu ashar. Ingin sekali memahaminya. Tapi waktu sangat terbatas.

Pagi sudah dipakai tahfidz, dzikir, beres-beres, sarapan, ajak main anak. Dilanjut kerja yang waktunya udah di booking.

Sementara malam, hanya ada 2 jam, 1 jam untuk makan dan 1 jam untuk belajar, dongeng anak-anak. Baca buku itu harus 2 jaman. Jadinya ya weekend di waktu dzuhur.

Misalnya di weekend kemarin udah khatam madarijus salikin jilid 1. Setelah sehari sebelumnya kita jalan-jalan ke cibinong dan tugu pancasila sakti. Atau mungkin besok kita pergi saja kesana. Jalan-jalan.

Jum’at, 12 Jumadil Awwal 1440H(18 Jan 19)

18.1.19 Dan hari ini menjadi hari yang luar biasa, semalam ada debat capres dan saya baru selesai membeli rak piring.

Alhamdulillah satu persatu tugas selesai. Gorden juga udah beli hari ini.

Subuh berjalan biasa, dengan dilema Najmi yang tidur lagi dan diisi dengan tilawah, hafal 3 ayat lagi surah alkolam lalu menulis dan 1 jam menulis, hanya jadi 2 halaman.

Saya pun cukup puyeng dengan rumah yang amburadul. Bebenah sampai jam 7 jadinya. Disambung sarapan dan berangkat di 7.22 setelah diskusi alot dengan penjual gorden lalu melajulah menembus jalanan dengan ditemani radio, cerita soal seorang yang bertanya pada ustadz, lagu-lagu dan sampai di jam 8.17. Tidak ada razia hari ini. Jalanan cukup lancar, hanya kemacetan biasa di kalimalang, prumpung dan utan kayu.

Dari jam 8.23 samapai 10.14 ini hampir tidak ada kerjaan yang diselesaikan, hanya membuat layout, merapihkannya sangat sedikiit sekali. Selanjutnya saya bercanda dengan teman di grup bahasa, soal beberapa pantrangan hamil yang prank! Lalu debat capres cawapres semalam dan berlanjut dengan kabar bahagia kelahiran anaknya gery

Saya banyak browsing, dari mulai google wellbeing yang hanya bisa ktif di 9.0 pie, beli popok, beli baju ummah, dan lanjut isi shopee pay biar dapat cashback 6700, lalu cari sana sini, cari popok kiolan, cari popok curah, dan ketemunya tetep aja fitti.

Sudah itu saya ganti air kolam si cupi, cupang saya. Udah hampir sebulan kayanya saya janji buat cariin dia temen. Tapi masih belum beli juga, ga nyempetin sih.

Mungkin hari senin bisa saya beli. Mudah2an. Tapi senin saya mau berangkat ke UI, mewujudkan sebuah mimpi saja. Setidaknya saya bisa datang kesana mewakili perusahaan, alih-alih hanya seseorang yang hanya jadi pengunjung. Buat sebagian orang UI itu hanya sebuah kampus biasa, masih ada yang lebih hebat, mungkin harvard, mungkin ummul quro dan lebih memungkinkan buat mereka. Buat saya. UI itu udah seperti sebuah plakat hidup. Tapi yah, sudahlah. Saya bahagia dengan hidup saya yang sekarang.

Anaknya geri lahir hari ini, saya fikir ini 18.1.18 -_- semoga jadi anak yang sholihah.

Sabtu, 13 Jumadil Awwal 1440H(19 Jan 19)

Sabtu kami pergi ke richeese factory. Just for first time we go and it awesome. Kita berangkat jam 10 dan pulang jam 12. Berlanjut istirahat dan malam hari yang tadinya mau ngaji batal juga.

IMG_4398.JPG

Tidak ada jalan-jalan sore. Hanya diam saja di rumah. Baby got happy, me too ๐Ÿ™‚

Ahad, 14 Jumadil Awwal 1440H(20 Jan 19)

Sebagaimana diskusi sebelumnya, kita mengikuti pengajian Ust. ABu Sangkan mengenai shalat khusyu’ pagi ini. Selepas sarapan saya berangkat. Jam 8 masih belum ada pengajian, jadi saya ngopi aja dan lanjut ke sekolah mengemudi, eh ban kempes dijalan dan harus diganti. Alhamdulillah, masih deket rumah. Jadi saya naik gojek saja untuk kembali ke mesjid.

Pengajiannya memang bagus, banyak ilmu baru dan paradigma baru yang saya pelajari. Nanti kita baca saja.

IMG_4511.JPG

Weekend ini lagi-lagi belum nyempetin nulis, barang sebaris pun! Luar biasa… beratnya. Pengajian selesai di waktu dzuhur lalu Ummah yang giliran mengaji, sebentar saja, sampai jam 2. Lalu kami istirahat, ummah goreng pisang goreng.

Sore hari kita main ke superindo, sementara Jabir dan Jarir main game. Kami membeli

Senin, 15 Jumadil Awwal 1440H(21 Jan 19)

Tulisan harian seperti ini jika dibukukan menjadi 20 halaman juga. Padahal hanya “sampingan” tapi malah lebih banyak hasilnya daripada tulisan inti.

Sudah 2 pekan tulisan melambat progressnya. Tapi setidaknya ada progress. Dan itu bagus. Begitu kata coach saya. Coach yang bisa memberi semangat dengan kata-kata, suara dan analoginya.

Senin pagi saya kembali tahajud dengan spirit shalat khusyu’ di jam 3.30 Memaksa diri meski nyaris tumbang. Amat dan seriusan perlu perjuangan.

Dan akhirnya terus bertahan sampai jam 6 dengan mata nyaris tertutup dipaksa dengan bala-bala dan kopi. Lanjut dengan memacu motor sampai di siemens jam 8 kurang 3 menit.

Berlabuh di meja, saya langsung meluncur ke UI dengan bluebird. Ya! Hari ini ada jatah kunjungan ke sana untuk upaya kerjasama dengan UI dalam kerjasama promosi dan donasi peralatan kerja.

P_20190121_120128.jpg
Pertemuan dengan kampus negeri, selalu sentimentil

Menyenangkan disana, begitu sampai di jam 9, suasana teduh khas UI masih terasa. Ah, pandai sangat kampus ini membuat rindu.

Saya dan UI

Biar tidak bisa kuliah disana, saya memiliki kisah sendiri tentang UI. Saya mengenalnya di kelas 2 SMA, saat film Gie sedang menyeruak. Dari film itu, tiba-tiba saja segala yang berkaitan dengan soe hokgie menjadi begitu sentimentil.

Gie bersama chairil anwar menjadi dua orang sastrawan yang begitu mendominasi saya di waktu itu. Saya melihat mereka keren, dikenal orang banyak dan bersahaja.

P_20190121_105008.jpg
Temen-temen pada meeting di kampus UI

Akibat pengaruh film gie dan catatan seorang demonstrannya, saya ingin masuk UI, saya mau kuliah di fakultas sastra dan ikut Mapala seperti dia. Itu yang saya impikan. Tidak peduli kami beda agama, dan saat saya bilang soe hok gie sebagai tokoh favorit di depan guru madrasah aliyah saya, wajahnya mengernyit, siapa dia katanya? Saya baru nyadar kemudian, saya sekolah di madrasah aliyah, dan mengidolakan seorang tokoh non muslim dianggap tabu di masa itu. Kami santri, masih ada tokoh lain yang muslim yang bisa saya favoritkan sebenarnya. Ah, anak muda namanya.

Mimpi tentang UI kandas saat saya memasuki dunia kuliah, saya hilang kapal. Dari kelas 3 saya tidak tahu mau kemana, saya coba beasiswa tanpa pembimbing, hanya browsing saja modal saya.

P_20190121_095752.jpg
Gedung department teknik elektro

Saya tak punya uang untuk kuliah ke luar kota, tidak berani dan malu meminta sedikit uang meski untuk bisa mengikuti UMDK. Saya hanya jadi penonton saat teman-teman masuk ke UIN, UPI, IPB, dan saya hanya bisa mendownload foto UI, melihat logonya, browsing halamannya. Dengan lirih.

Tapi mimpi tentang UI masih belum usai, saya masih sering sentimentil setiap kali melewati kampus UI, ada rasa iri melihat mahasiswa-mahasiswa beralmamater kuning itu setiap kali mereka naik dan turun di stasiun UI. Kata teman yang kuliah disana, ada yang namanya kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) ada yang namanya kunang-kunang (kuliah nangkring-kuliah nangkring), hehe.

Akhirnya saya bisa juga kuliah di sebuah kampus swasta di kota kami, berbekal beasiswa 50%, Allah SWT memberi kesempatan saya belajar, dengan sedikit kerja keras, mengantuk, dan berhemat. Saya ingat dulu kalau sarapan hanya bisa beli energen, uang tidak cukup untuk beli mi ayam atau bubur seperti sekarang. Makan siang pun sama, kalau lapar hanya bisa beli okky jelly drink, biar bisa ngobatin kenyang dan haus sekaligus. Pernah sekali tugas malam, saya nyari makanan di tempat sampah. Uang tidak cukup untuk beli lauk, saya lapar.

Di masa kuliah pernah saya berseloroh, mungkin di tengah-tengah masa kuliah, saya masih bisa kuliah di UI. Tapi kesempatan itu belum datang juga. HIngga akhirnya saya bertekad untuk masuk S2 UI ditertawakan juga, katanya UI itu Udar-Ider alias mondar mandir. Hehe.

Lulus kuliah saya masih berandai-andai masuk UI. HIngga akhirnya saya kerja di Sukabumi dan Tangerang. Kuliah S2 masih belum kefikiran. Saya masih bingung harus kuliah apa, yang kefikiran adalah kuliah sastra mandarin. Karyawan yang bisa bahasa mandarin gajinya double di kampung saya. Baru mau daftar, saya dapat tawaran di Batam. Niat kuliah pun tertunda, berganti menjadi pernikahan.

P_20190121_112044.jpg
Soto daging kantin fakultas teknik UI

4 tahun di Batam, niatan untuk S2 tidak begitu kuat. Berganti dengan investasi pendidikan anak, rumah, kendaraan dan beberapa kebutuhan. Hingga akhirnya kesempatan pindah kerja ke Jakarta pun datang. Ah, akhirnya bisa kembali bermimpi untuk S2 saya bilang. Tapi biaya S2 tidak murah, setidaknya saya harus menukar dua hal : Beli rumah atau kuliah S2. Harga keduanya sama.

Saat di Jakarta justru saya ingin kuliah di pendidikan agama Islam, tapi harus kelas reguler. Katanya ada kelas hasil kerjasama kedutaan mesir dan Indonesia di UI. Sayang tidak ada kelas eksekutif.

Lalu kelas tehnik pun besar juga biayanya. Dan harus kelas malam pula. Itu kan jam nya bermain dengan anak-anak! HIngga akhirnya, mungkin mimpi ini harus saya tahan dulu. Setidaknya sampai anak-anak masuk SD, atau rumah lunas. Tapi saya yakin, Allah SWT maha mendengar mimpi saya pada UI. Semoga suatu saat bisa terwujud.

Eh, untuk S2 sekarang 21 juta untuk DP dan 11.500.000 per semesternya itu untuk tehnik Industri. Terkadang pengen ngambil kelas profesi keinsinyurannya saja, kadang pengen jurusan apa saja yang penting S2. Hehe.

Ya meski demikian ada beberapa kata yang tak perlu di ungkap sebenarnya. Ya, mudah-mudahan bisa menahan diri lebih baik.

Kita sampai di jam 9 dan menunggu eryawan sampai jam 10. Kita duduk di kantin, melihat beberapa pengumuman, mading, poster dan mahasiswa yang lagi pada belajar. Jam 10 meeting pun dimulai, hanya 30 menit saja. Tentang beberapa revisi surat yang kami bawa dan kami langsung membahasnya dalam 90 menit berikutnya.

Suasana UI memang lagi ngangenin, hujan-hujan begitu, basah dan wangi pohon. Datang di suasana jalanan lancar dan lewat tol pakai mobil yang nyaman begitu memang luar biasa mudahnya! Harus punya mobil, harus sukses, biar bisa bantu orang banyak. Karena Allah SWT. Ya, saya harus kaya, kaya karena Allah SWT. Saya harus sehat, sehat karena Allah SWT. Semua yang mubah boleh, karena Allah SWT.

Selasa, 16 Jumadil Awwal 1440H(22 Jan 19)

Hari ini agak sedikit mendung, semendung cuaca 2 hari belakangan ini. Masih merasa ga enak karena belum bisa memutuskan untuk beli microphone mesjid atau tidak. Yah, beginilah resiko berdiri diantara ingin berbuat baik dan merasa sayang.

Ko kurang enak hati juga ya, share materi, share foto seperti itu. Oke udah di delete. Suka jadi sok ngustadz tapi ga diminta itu rasanya masih kurang pas aja. Tergantung niat sih, cuma khawatir aja niatnya belum lurus.

Yes, pagi yang sedikit terbayangi dengan alarm yang ga nyala. Sepertinya harus ganti baterai berlanjut dengan ujian praktek lalu melaju di jam 8. Terlambat karena baru mandi di jam 7 dilanjut sarapan.

Setelah bertarung dengan grab yang ga proceed, saya naik gojek lalu hape mati di angkot. ga baca buku deh.

udah download buku baru. Berlanjut ke busway dan sampai di jam 9.10 dengan ongkos angkot 6rb dan kartu flazz yang ketinggalan.

Begitulah hari ini, sudah sebelun saya tidak memposting tulisan harian, sudah sebulan saya menulis buku belum selesai juga. Bahkan lebih.

Ide buku (lagi)

Motivator orang miskin, benarkah orang miskin cuma butuh uang? Buku motivasi untuk orang miskin. Orang miskin ga harus kaya, dia harus bersemangat. Miskin itu bodoh, pola pikirnya salah, ga ada harapan, keras kepala, jumud, ga mau berubah. Saya pernah miskin, dan saya tidak mau disebut begitu.

Orang karyawan itu nyaman, susah diubah, dari 1000 cuma 1 yang akan berubah. Benarkah teori itu valid? Benarkah semua teori motivasi itu benar? bagaimana jika kita menentang semua teori motivasi itu?

Bagaimana jika ternyata yang miskin lah yang mulia? Mereka yang masuk surga? Bagaimana jika ternyata yang aman itu lah yang terbaik? Bagaimana jika yang terpenting itu bukan menjadi kaya? Bagaimana jika ternyata bahagia itu tak perlu perubahan? Pernahkah kamu mencoba menyangkal teori yang sekarang Ada?
Ada 3 hal intisari seni bodo amat itu : Tidak peduli pada hal yang tidak penting.

Kadang bukan masalah orang mau ikut kita atau tidak, tapi apa jika yang kita kejar itu bukan hal yang penting? Yang kita inginkan itu bukan hal yang penting?

Seberapa pentingkah pemilihan presiden, seberapa besarkah pengaruhnya terhadap kita, dan pengaruh kita membicarakannya?

Sehingga apa yang kita lakukan hanya jadi sesuatu yang paling penting. Bukan banyak.

KENAPA KITA HARUS BERSIKAP BODO AMAT

Terprovokasi dengan sebuah buku berjudul seni untuk berbuat bodo amat, saya jadi mikir. Mungkin bener juga sih, kita harusnya ga terlalu mikirin beberapa hal yang selama ini kita fikirkan.

Karena banyak diantaranya itu ga penting! Harusnya kita fikirin, kerjakan dan kembangkan sesuatu yang penting saja. Waktu yang pendek ini di dunia ini, yang mungkin besok kita mati ini, terlalu singkat untuk membereskan semuanya. Entahlah, mungkin tentang pemilihan presiden, artis dengan masalah pribadinya yang ga ada sangkut pautnya sama kita, atau masalah orang lain yang sebenernya ga minta buat kita perhatikan.

Kenapa sih ga mikirin diri sendiri aja, Sebegitu pentingkah mikirin orang lain? Sebegitu sempurnakah dirimu sampai tidak kamu fikirkan?

Rabu, 17 Jumadil Awwal 1440H(23 Jan 19)

Seingat saya di subuh kemarin, get late ya, sekitar jam 5.16 lalu berlanjut dengan berjamaah. Alarm sudah dibenerin, tapi malah tidur lagi. Besok pasti lebih baik!

Jam 7.10 melaju dan sampai kantor di 8.23 berlanjut ke prepare kopi lalu kita berangkat training.

P_20190124_105843.jpg
Training @millenials with LingMud

Otak rasanya meletup setiap kali mengikuti training yang bagus. Katanya sampai 3 pekan trainer melatih cara bicaranya. Luar biasa. MEmang bagus, diawali dengan perkenalan dengan MBIT

Berlanjut dengan beberapa materi tentang kepercayaan diri dan kunci kesuksesan. Tapi bukan key of success.

Hari ini saya meletup!

Kamis, 18 Jumadil Awwal 1440H(24 Jan 19)

Hari kedua saya mulai merasa saya terlalu berlebihan. Saya tidak nyaman saya ingin tenang saja. Samya memilih tenang saya mencegah diri over confidence.

Saya harus selesaikan tulisan saya, sudah sebulan lebih masih banyak yang harus diselesailan. Saya kasih sebulan lagi. Iya kah? Seminggu lagi lah. Dan tulisan ini harus segera terbit. SUdah terlalu lama rasanya.

P_20190123_154339.jpg
House of millenials (apa sih :D)

Saya bisa mengupdate wakafpesantren. Saya bisa! Training hari kedua sempat bikin drama juga. Dan malam hari drama berlanjut lagi. Dengan semut masuk kuping

Jum’at, 19 Jumadil Awwal 1440H(25 Jan 19)

Payday! Alhamdulillah ada usia lagi, kesempatan taubat lagi hari ini. Sementara langit hujan menggelayut di Jakarta.

Sementara mentari terlambat datang. Kian menahan kian menyakit, kian memberi dan bingung sudah.

Saya ingin berkisah. ADa akhir ada awal. Ada badai dan kisah. Tak berhenti berkisah. Suatu saat pasti bisa. Tetap membiru dan menangis. Haru biru sudah biasa. Sudah pergi saja asa. Aku tak eduili. PBiar hujan menemani aku ingin disini. Diam saja. Kau menari saja bersama bintang. AKy tak peduli. Kau bercumu saja sayang. Aku tak peduli. Biar jengan sudah biasa.

P_20190127_084056.jpg
ngisengin Jabir ๐Ÿ˜€

Kalau mengikuti teori tentang 3 kamar, jadi khawatir juga. Lama-lama kamar investasi dan charity saya tergerus oleh pola konsumsi. Ya, mungkin saya harus geser konsumsi ke investasi karena keluarga pun sejatinya charity. Kedua, adalah memohon dan mengusahakan agar pemasukan bertamabha agar bisa charity lebih baik tidak hanya ke keluarga. Semoga Allah SWT mengabulkan.

Laptop saya rusak dan siapa sangka biaya restorasi data itu bisa beratus kali lipat dari harga pembelian hardisknya. 1 MB harus dibayar 100rb. artinya untuk membackup data di hardisk itu yang 300MB itu kami harus mengocek 3juta rupiah. Subhanallah. Begitu mahalnya restorasi. Seperti mahalnya data. Dan betapa berharganya sebuah data.

Jum’at sore jadi hari gajian dan kita syukuri dengan 1KG dukuh. Lagi musimnya.

Sabtu, 20 Jumadil Awwal 1440H(26 Jan 19)

Hari gajian lewat begitu saja, hehe beginilah kehidupan seorang karyawan bernafas dari satu bulan ke bulan yang lain.

Sambil mempersiapkan diri tentang rencana jadi penulis. Ada ide lagi “Interview” yaitu membuat novel autobiografi kehidupan sebagai seorang lean engineer dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain selama 10 tahun bekerja disini.

Pagi bercahaya lebih awal hari ini, indah memang berlanjut subuh dan menulis sampai jam 8, saya menulis lebih banyak khususnya tentang bagian mempersiapkan kehidupan selama bekerja. Bagian 4.

Berlanjut mandi lalu shalat dhuha dan berangkatlah saya ke gramedia di jam 9.34 dan sampai di jam 9.50. masih 10 menit menuju buka, sudah ada beberapa pembeli yang mengantre. Saya langsung saja melahap buku-buku disana.

Gramedia pondok gede cukup mudah untuk dijelajahi dan cukup besar juga sebagai referensi pencarian dunia perbukuan disana.

P_20190126_111045.jpg
Altar Fiksi Best Seller, tempat tere liye bertahta. Saya bilang “Bang Tere, tunggu 2 tahun lagi, nanti buku gue yang ada disitu” Ya Allah, Qabul

Di jam 9.50 lima belas menit pertama saya gunakan untuk membaca buku-buku yang sedang diobral mulai harga 20.000 ada 3 rak disana. Waktu zaman kuliah, buku ini lah sasaran saya dulu, mengumpulkan buku-buku murah yang kadang saya tidak faham kenapa membelinya, kadang hanya penasaran saja dengan jilidnya.

Scanning Toko Buku Gramedia Pondok Gede

Untuk Anda yang memang penyuka toko buku, mungkin pernah mengalami masa “ikut-ikutan” seperti saya dulu, hanya terpukau dengan gemerlap toko buku dan hanya ingin keren-kerenan saja. Saya jelajahi toko buku tanpa tahu map nya, tanpa ada tujuan, hanya menjelajah saja.

belakangan saya mulai memahami bahwa untuk benar-benar faham adalah kita harus memiliki gambaran besar sesuatu yang ingin kita tuju, bahkan untuk hal toko buku.

Kamu datang untuk apa, dan seperti apa gambarannya? Pagi ini saya menjelajah dengan sedikit berbeda.

Saya faham map nya, punya gambaran buku apa saja yang dipajang. Jadi di rak depan ada 3 meja penuh buku obralan, 1 meja untuk buku pengembangan diri, buku yang saya baca : women book, sebuah buku panduan wanita mulai dari fashion, cara mengatur makanan hingga cara mengatur penampilan. Dua rak lain adalah buku anak-anak.

Begitu masuk, di sebelah kanan toko adalah berbagai macam mainan anak-anak, stationery, alat musik, hingga peralatan seperti tas dan dompet. Karena saya mau mencari buku, saya belok kiri.

Ada 4 buku penuh dengan title new arrival. 2 buku non-fiksi dan 2 adalah buku keislaman. saya melihat ada dua buku tentang jokowi, cukup menarik dan ada beberapa kumpulan do’a yang menginspirasi saya, kenapa saya tidak menulisnya?

Dari sana saya melaju ke best seller, ada rak tinggi berisi 10 buku, 7 keajaiban rezeki ippho santosa masih ada disana, luar biasa! Sudah cukup lama buku itu terbit dan masih masuk best seller!

Nomor 1 diiisi buku sebuah seni untuk bertindak bodo amat, saya sudah tidak bergitu desire baca buku itu, sudah saya baca resensinya disini, lalu saya hanya baca cepat dan saya pun memiliki ide untuk menulis hidup biasa saja, tapi ternyata sudah ada dua buku yang setype.

Kebanyakan berisi novel, termasuk novel yang sampai jutaan kali dibaca di wattpad. Selanjutnya ada buku yang saya gak nyangka bisa laku kelas, buku itu hanya berisi kata mutiara dari seorang ibu untuk anaknya. Wah di koridor islam juga ada buku nasihat seorang ayah. Maka kenapa saya tidak menulisnya? Atau sekalian saja, nasihat anak untuk orang tuanya? Menarik bukan!

Memanglah, menjelajahi toko buku itu lebih dari sekedar belanja, tapi juga berburu ilmu, ide dan inspirasi.

Pulang dari pondok gede jam 1 setelah lama mikir soal meja mana yang mau dibeli dan saya lapar, lalu pulang makan dan shalat lanjut tidur dan bangun shalat ashar.

Mau jalan-jalan tapi hujan, berlanjut makan snack lalu shalat maghrib dan menulis sampai isya. Selesai shalat kita berbncang, main sama anak-anak, menulis, mengepel dan waktunya tidur

Alhamdulillah Ya Rabb.

Ahad, 20 Jumadil Awwal 1440H (27 Jan 19)

Biasanya ahad sore begini lebih semangat saya menulis, sudah lama juga tidak menulis ahad sore. Padahal pengen banget nulis,

Ya, seperti membackup aktivitas seharian ini lah. Dua hari ini sudah banyak waktu saua menulis, tapi tidak cuma soal buku saya, cuma 5 halaman jadinya, saya nulis tetang harian juga dan tentang masa kuliah juga dan baca beberapa buku dari dedy susanto serta anthony robbin. Serta sebuah novel dari boy chandra suatu hari di 2018.

Inilah hari ini, shalat mulai membias kekhusyu’annya, masih perlu perubahan yang lebih baik dalam penerimaannya.

Langit mungkin tak pernah sebegitu baik dalam Senja semakin Indah saja. Kadang disayangkan kenapa waktu berlalu begitu cepat, begitu Indah. Namun Apa daya. Kami hanya bisa pasrah.

IMG_4575.JPG

Memiliki tujuan memang baik, hanya ada kenikmatan yang harus dikorbankan. Seperti mencatat kehidupan keluarga seperi ini memang Indah, tapi siapa yang mau membayar? Setiap orang ingin baik.

Bulan ini saya lanjutkan kehidupan seperti biasa dengan stok keuangan lebih besar daripada biasanya. Meski tetap kadang serba salah.

Di hari jum’at masih ada 200, sekarang tinggal 140, saya beli snack, beli duku, beli martabak mini, beli es krim, dan lain-lain. Begitulah kemarin, hari berjalan saja.

IMG_4640.JPG

Senin, 21 Jumadil Awwal 1440H(28 Jan 19)

Senin datang tanpa permisi dan pergi tanpa pamit. Lama tidak membaca novel, tidak menikmatinya, tidak merangkai kata puitis, rasa itu perlahan hilang. Saat kembali bertemu dengan novel suatu hari di 2018 dan Senja Musim Kemarau, saya sendiri jadi bingung. Saya dulu kaya gini ya? Entah suatu saat bisa begitu lagi atau tidak. Sudah lama, pasti bisa.

Selama niat kita baik, apapun itu pasti kesampaian. Satu-satunya alasan kenapa Allah SWT tidak atau belum ngasih sesuatu ke kita itu karena belum baik untuk kita. Udah kita iman aja, pasti Allah SWT kasih.

Berlanjut tahajud dengan Kitab biru yang dibawa dari zaman mondok, Subuh menyambut berganti pagi dengan surat Al-Qolam yang masih di ayat 21. Alhamdulillah, hari ini mulai nyolek ayat 24.

Berlanjut sarapan dan menderu di 7.20. Sampai di 7.24 karena macet di perempatan kalimalang-proklamasi. Tadinya saya khawatir bakal hujan sesuai prediksi radio. Pulangnya barulah hujan mengguyur Jakarta.

Bekerja hari ini masih selembut angin. Berlanjut dengan pembenahan draft.ย  Tapi air masih bisa dikendalikan dengan baik, mengalir lancar, dhuha dan dzuhur sampai ashar.

Hari ini saya terkejut saat searching #kadoumrohallianz dan video tentang saya dan mamah sewaktu mengikuti program ini sudah diupload :

Alhamdulillah.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Cerita Harian 92 : Sebulan Berlalu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.