Era Tinggal di Jakarta (2017- ...)

Cerita Harian 93 : Sebuah Anomali


Rabu, 24 Jumadil Awwal 1440H(30 Jan 19)

Cintai karena Allah SWT saja

Jangan cintai istri karena dirinya, karena jika kau pergi, dia tak akan turut serta
Jangan cintai anak karena dirinya, karena kelak akan meninggalkan juga
Jangan cintai sahabat karena dirinya, karena ada saatnya mereka lupa
Jangan cintai pekerjaan karena profesinya, karena itu tak akan membuatmu kaya
Jangan cintai alam karena adanya, karena pun nanti kamu akan meninggalkannya juga
Jangan cintai harta karena banyaknya, karena itu mungkin tidak akan bermanfaat apa-apa

Mencintai makhluk pada akhirnya akan membuatmu kecewa,
Mencintai sesuatu yang tidak kekal hanya merupakan perbuatan yang sia-sia.
Cintailah Alloh SWT yang abadi,
Alloh SWT yang mencintaimu dengan sempurna, yang tanpa cinta-Nya kita tidak akan jadi apa-apa
Yang cinta-Nya, luas tak bertepi, dan tak pernah berkurang.
Cinta yang tidak akan membuatmu kecewa,
Cinta yang tidak akan membuatmu payah mengerjakannya.

Ya Alloh, jangan jadikan kami menjadi hamba yang lupa.

Menulislah untuk dirimu sendiri – Quote from Freedom Writing

Hari ini

Menulis bukan sebuah kewajiban, jadi jangan merasa susah. Tidak ada kewajiban yang membebanimu. Karena jika ada yang kamu pilih, maka itu pilihanmu. Menulis adalah pilihan saya, Allah SWT menciptakan kita sebagai khalifah, dengan kemampuan paling berbeda dengan makhluk lainnya, lebih dominan, paling mudah beradaptasi dan lebih cerdas.

Hari senin ada rapat untuk presentasi bersama manajemen, kami rapat di Antareja dan saya langsung diskusi dengan Pak Heru mengenai VAM nya yang sulit diubah dan tetap sulit diubah karena bukan MCP.

Hari selasa pun datang dengan presentasi yang direncanakan. Disela-sela pekerjaan saya alhamdulillah masih bisa shalat dhuha, masih bisa shalat ashar, presentasi itu digelar di demo room, sebuah ruangan baru dan saya hanya ebrtanya tentang betapa kami mengharap ada pertukaran karyawan dengan para millenial lain di perusahaan kami. Semua lancar dan kami masih dipuji.

Hari rabu di pekerjaan, ada review panel tracking yang dengan begitu legowo harus musnah sebelum diedarkan. Karena belum terkoneksi dengan SAP maka aplikasi ini pun tertolak.

Jam Kantor

Sebenarnya dari 40 jam sepekan, 8 jam per harinya, saya menghabiskan 11 jam untuk perkara ihwal bekerja ini, bahkan 13 jam yang semuanya saling berhubungan. Dan ditambaha 8 jam istirahat, kami hanya punya 3 jam untuk keluarga, yang kadang harus saya alokasikan juga untuk me time, couple time. Berusaha seadil mungkin saja. Dan agak lebih bebas di akhir pekan. Namun sedemikian, masih merasa tidak puas juga. Ya, mau bagaimana lagi, menjadi karyawan namun ingin punya banyak waktu luang seperti pengusaha yang ingin sedikit berfikir.

Dari 13 jam di hari senin-jum’at : 3 jam makan dan persiapan serta mandi termasuk makan siang, 2 jam perjalanan PP, dan 8 jam di tempat kerja yang terkurangin 2 jam waktu shalat duha dan ashar sehingga hanya 6 jam yang benar-benar produktif.

Dari 3 jam yang tersisa, saya pakai 1 jam untuk hafalan, 30 menit untuk ngaji malam, 1.5 jam untuk acara bebas (kadang mendongeng, kadang belanaja, kadang bersihin rumah, kadang becanda dengan anak, kadang nonton TV, kadang main handphone, kadang baca buku, kadang nongkrong di warung, kadang menyepi, kadang ngobrol sama tetangga, kadang jalan-jalan, kadang nelpon orang tua, bebas)

Anak-anak

Anak-anak sudah besar, Najmi sudah berani ke mesjid dan berangkat mengaji sendiri. Jabir dan Jarir sudah bisa diarahkan untuk melakukan sesuatu seperti ambil uang, bangunin kaka, ditanya ini warna apa? Dan dia akan jawab “Ham” kadang “Hep” kadang “Mah” kadang “Capeu” Dan ujaran lainnya.

Najmi anak yang kuat dan sensitif. Saya lihat dia mudah untuk say ajarkana dan persiapkan mentalnya. Ya Allah, beneran anak itu seperti spons. Menyerap begitu banyak informasi, mengubah sebegitu banyak sikap. Najmi anak yang kuat dan berkarakter, memiliki keinginan yang kuat, tahu mau kemana langkah tujuannya dan begitu peduli dengan sekelilingnya.

Jabir anak yang kokoh dan benar-benar bold. Dia tahu apa yang dia inginkan, namun ada saatnya di fleksibel dan datang ke pangkuan saya untuk dipeluk, bermain, tersenyum. Jabir senang berbagi, beberapa kali kue atau makanan apapun yang dia makan akan dia suapkan ke mulut saya. Jabir anak yang sholeh, sudah bisa mengikuti gerakan shalat abangnya.

Jarir anak yang selalu bersemangat. Dia penuh dengan imajinasi dan kaya akan inisiatif. Dia tidak pernah membiarkan dirinya tertinggal dari abang-abangnya. Tak ada adek kaka memang antara Jabir dan Jarir. Dan buat saya ketiga anak ini sama, berhak diperlakukan dengan adil. Jarir juga kuat, begitu mudah mempertahankan diri untuk bertahan jika terpaksa berada pada situasi yang konflik.

Tantangan berada ditangan kami, Apap dan Ummah yang belajar sambil praktik ini untuk selalu menghadapi anak-anak dengan professional dan proporsional. untuk mengenyahkan rasa khawtir, insecure, dan selalu husnudzon, menyamai semangat mereka, menjaga rasa ingin tahu dan inisiatif merka, memberi contoh dengan baik dan menyulut semangat mereka untuktumbuh menjadi anak baik. Ya Allah begitu kami harapkan pertolongan-Mu dalam perjalanan ini.

Di rumah

Di rumah sepekan ini cukup baik saya masih bisa beberapa kali tahajud, hanya dua hari belakangan ini saja setelah alarm berdering di weekend malah terpuruk lagi dan akhirnya mengikuti alram hape yang fatalnya malah di set di jam 5, bukan 4. -_-”

Tetangga sehat, hanya keluarga yang tiba-tiba merenovasi atap sehingga membutuhkan sejumlah uang. Alhamdulillah masih ada rezeki, walau katanya masih kurang.

Mengeluh

Ada saatnya hati ini tiba-tiba drop. Terjebak pada kondisi yang menyeramkan “mental disturbance” Ketika mental terpuruk dan mulai bermunculkan ide-ide lama

– Gue udah lama nyoba berubah, tapi masih gini-gini aja
– kalo lu masih disini sampe 2 tahun kedepan, lu emang mau jadi apa? Lu mau kemana?
– Lu gak mungkin bisa berubah jadi lebih baik, lu tuh penakut, pemalas, ga bisa komunikasi, penyendiri,
-Udah lu udah bisa bersyukur sama kehidupan lu sekarang, lupain aja mimpi jadi penulis lah, jadi ulama lah. Dunia ini sudah banyak yang seperti itu, ga butuh lu ikut-ikutan kaya mereka. Lu mah udah aja pasrah. Tawakal sama keadaan lu sekarang.
– Kalau lu jadi ulama besar, jadi penulis, jadi orang kaya.., lu bakal dihisabnya lama, belum tentu kehidupan lu lebih baik,
– Para motivator itu kaga shalat, semua yang lu pelajarin salah, lu mau kaya tapi kayak mereka?

Jadi kaya? Guru saya tidak pernah berdo’a untuk kaya. Dan memang hidup dalam kesederhanaan ada beberapa hadits yang menjelaskan keutamaannya. Mungkin karena jadi kaya itu level ujiannya memang sangat tinggi, meski demikian kayak tidak dilarang juga dan orang kaya yang dermawan memang tinggi derajatnya.

Rasulullah SAW dan bebrapa shahabat pun kaya, tapi kaya mereka disertai kepedulian yang tinggi. Bukan untuk dikumpul-kumpul, ditatap-tatap, dihitung-hitung di puji-puji. Jadi, tak apa jika saya bermimpi jadi orang kaya, punya uang trilliunan untuk bangun pondok, menghajikan orang lain, jadi jalan lewat rejeki orang lain. Semoga Allah SWT ridho karenanya.

Menjadi manusia bermanfaat, setidaknya bapak bisa lebih leluasa merenovasi rumahnya, keluarga bisa terjamin nafkahnya, bisa membantu negara-negara yang miskin dan membuka jalur rejeki dari mereka yang sementara ini masih non muslim menajdi rejeki mereka yang muslim namun terjebak di xinjiang, rohingya, palestina, maupun di beberapa daerah di Indonesia. Mereka perlu access, access ke pekerjaan yang layak, access ke rejeki yang lebih baik, bukan dibuang-buang untuk disimpan saja, diputar-putar, di pakai politis, di pakai pesta-pesta, pelesiran tanpa manfaat. Masih banyak hal yang baik yang bisa dilakukan jika kita kaya.

– Sudah ada perubahan dalam perjalanan selama ini, saya sudah bisa membaca tafsir ibnu katsir, membaca buku fikih lagi, mempelajari banyak buku self development, belajar dari inspirasi bahkan menulis buku. Kita sedang berjalan ke arah perubahan, sedang mempersiapkan diri untuk itu. Allah SWT pasti membantu saya dan jalan kesana suatu saat pasti terbuka.

– 2 tahun lagi memang masih tinggal di Bekasi, tapi masih banyak hal yang bisa tejadi, mungkin dapat kado umroh lagi, jadwal seminar, ziarah, wisata keluarga, Kita bisa ke Bandung tahun ini, insya allah, bahkan mungkin ke Batam. Insya Allah setiap hari, Allah SWT akan memberi rejeki yang cukup bahkan melimpah untuk kebahagiaan kami sekeluarga. Allah SWT yang memberi rejeki, bukan kamu nafsu! Dan bukan syetan, memang siapa yang menggaji saya? Allah!

– Saya itu berani, berani bertangung jawab, berani memperjuangkan kebenaran, saya membangun komunikasi disaat penting, bukan kmunikasi sembarangan yang berlebihan, saya berkomunikasi saat dibutuhkan dan menjaga prinsip orang lain. Saya tahu kapan harus bersosialiasi, tahu kapan harus maju dan kapan harus diam. Jadi tenang saja nafsu yang menjengkelkan dan kerdil! Saya punya akal yang Allah SWT titipkan untuk ngurusin hal begituan, ga usah khawatirkan saya dengan cara merecoki dan menghembuskan enzim-enzim negatif di fikiran saya. Itu bukan tempat kamu!

– Bersyukur adalah pemicu datangnya rejeki yang lebih besar, jadi penulis adalah jalan menyebarkan manfaat ke orang lain, jadi ulama adalah keniscayaan, setiap orang harus belajar lalu berilmu dan mengamalkannya lalu mengajarkannya. Itu tuh kaya lu harus merawat penampilanmu, lu harus menikah, terus punya anak dan menjaga generasimu. Turut serta dalam bereproduksi, eh ko reproduksi? Ya lah reproduksi ilmu, hehe adalah jalan untuk menjaga generasi kebaikan terjaga. Jadi ini adalah tentangs ebuah kesinambungan, bukan sebuah pencapaian. Tidak ada sebuah pencapaian dari sesuatu yang kamu jalani seumur hidup, itu seperti bernafas. Mau pakai KPI untuk bernafas? Ingat, berdakwah itu bukan bisnis, ini tentang ibadah. Tak pernah ada KPI untuk ibadah. Tapi mungkin bisa ditentukan ya? Kan katanya harus berkualitas! Ah entahlah, saya tidak mau mengada-ngada.

Pokoknya begitu, jangan kasih celah sekecil mungkin untuk sikap apatisme dan penyerahan. Tetap berharap dan beri kesempatan untuk dirimu, untuk saya! Karena Allah SWT pun masih membiarkan saya hidup hari ini. Berarti Allah SWT masih percaya kepada saya. Percaya saya masih bisa taubat.

Beberapa hari kebelakang ada semut masuk ke telinga alhamdulillah bisa dikeluarkan, Ya Allah SWT kalau qadarullah mati karena semut, bisa mati saya saat itu juga. Sama sepert saat kecelakaan motor di tahun 2017. Atau setiap hari saya bawa motor mau wafat kapanpun bisa saja. Ini adalah keyakinan bahwa mati bisa kapan saja, tapi berharap itu harus, percaya bahwa Allah SWT pun masih percaya kepada kita, jadi jangan mendahului Allah SWT dalam menilai diri kita, berputus asa.

Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan untuk menekan dan mengurangi nafsu, fikiran buruk, fikiran menyesatkan, fikiran yang membuai untuk menjatuhkan, fikiran yang salah namun terlihat benar, nafsu berkedok cinta, penafsiran yang salah, kegagalan berkedok kesuksesan, kemaksiatan berkedok ibadah. Ya Allah Laa haulaa walaa kuwwata illa billah. Allahumma arinal haqqa-haqqa warzuqnattiba’ah wa arinal baathila-baathilan warzuqnajtinabah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.