Era Tinggal di Jakarta (2017- ...)

Cerita Harian 93 : Sebuah Anomali


Ahad, 28 Jumadil Awwal 1440H(3 Feb 19)

Telinga

Ada sesuatu yang gatal di telinga, sempat browsing dan benarkah ada sesuatu? Sempat berinisiatif untuk ke dokter, mungkin besok saya ke dokter. Sepekan telinga saya bermasalah sembuh – kumat, udah datang ke RSPJ dan klinik dokter. Selebihnya saya sadar, ada yang kurang beres dari sikap saya di bulan ini. Sungguh peringatan Allah SWT sangat dekat.

Ahad

Ahad akhirnya kembali pergi begitu saja, membawa cerita akhir pekan sederhana. Indah, menyenangkan. Mungkin suatu saat tidak begini lagi.

Seperti berubahnya akhir pekan di tahun 95, 96, 2000, 2010, dan kini 2019. Semua berbeda. Semoga selalu begini, berjalan ke arah yang lebih baik.

Kadang tentu saja ingin sesuatu yang luar biasa, tak sampai orang sekaya sedunia, tapi mungkin mengunjungi tempat lain, di tempat yang lebih besar, bersama orang-orang yang menyenangkan. Tapi hidup ya begini, cara yang terbaik pada akhirnya adalah bersyukur.

IMG_4755.JPG
Playing rush!

Khayalan kadang datang dan pergi, seperti biasa, sampai bosan. Ingin punya pondok, dakwah ke banyak tempat, banyak orang yang bantuin, tinggal di hotel bareng keluarga, mengunjungi tempat wisata, kadang cukup kembali ke Batam. Kadang bertanya : Kenapa kamu ada disini? Dimana kamu seharusnya? Kadang ingin bertanya, menganalisa, tapi kadang akhirnya letih sendiri. Tak ada sikap yang berubah, tak ada perubahan yang signifikan,

Baca Buku Pekan Ini

Sepekan ini, ada beberapa yangdibaca : buku awaken of giant within, the art of reading, buku tentang PAUD dan karakter anak, think and grow rich. Buku pengembangan dri membuat saya ingin segera kembali pada kitab klasik dan meluruskan orang-orang ini. Orang yang cerdas, berenergi tapi tidak nampak shalat. Kan sayang? Atau yang rajin shalat, ibadah tapi lemah dalam ekonomi dan energi. Atau tentang mereka yang sudah sempurna tapi kenapa tidak ada jalan buat kami untuk mencoba mendekat?

Perlu Guru & Mentor

Kadang ingin merumuskan sendiri. Mungkin saya harus jalan kepada mereka pelan-pelan. Mungkin belum saatnya, mungkin ini yang terbaik. Memutar-mutar saja, seperti orang bodoh tanpa arah. Ingin punya guru tapi berbayar, tidak bersahabat, takut, malu. Apa mau dikata? Alasan saja terus.

Ahad malam ada letupan agak besar saat mata hampir terlelap, hari ini pun gundah dan kepala yang bertanya-tanya terus berdatangan. Yang pasti kita harus memihak pada kebaikan. Anak-anak akhirnya terlelap juga denagns endirinya, meski entah jam berapa dan saya kembali tergoda di 3.30.

Tadinya habis isya pun ingin menulis, tapi lapar dan tak mau makan. Akhirnya setelah dipaksa sedikit kita beli durian dan dukuh. Alhamdulillah. DI sore hari kita di rumah, hujan berpetir dan ondel-ondel lewat. Kita baca dongeng saja untuk anak-anak.

Habis maghrib kita istikharah untuk sekolah Najmi. Dan habis dzuhur kita tidur, ummah ngaji dan kita nge bakso malang sampai ashar. Ba’da subuh kita keliling mencari gorengan dan menikmati donat dan combro setelah melihat jalan tol jabodetabek dan stasiun LRT baru di Jatibening baru.

Menonton doraemon juga pagi ini, tentang cerita suneo jadi raja di zaman prasejarah dan khilaf hingga baru sadar saat rakyatnya meminta dia menghentikan gunung yang meletus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.